Pages

Senin, 14 Mei 2012

Air Mata Seorang Suami ( Kisah Sepasang Suami Istri yang Mengharukan ) 2

Lanjutan Thread Sebelumnya : http://www.garyzblogz.org/2012/05/air-mata-seorang-suami-kisah-sepasang.html


Dia jelaskan pula bahwa istrinya oleh dokter sudah divonis akan lumpuh total apabila tersadar kemudian. Beberapa hari kemudian, dengan ijin dokter, suaminya membawanya pulang kerumah. Pihak keluarga juga memberikan putra-putrinya kembali pada keluarga tersebut. Dimulailah kehidupan rutin menyongsong masa depan. Setiap hari, menjelang saat adzan subuh, suaminya membangunkan istrinya. Dengan penuh kasih sayang, suaminya membantu berwudhu istrinya dengan seember air dan handuk basah. Dikenakannya mukena pada istrinya dan membiarkan istrinya sholat sunnah terlebih dahulu dengan hanya gerakan mata dan bibir. Sementara itu suaminya membangunkan putra putrinya untuk diajak sholat subuh berjamaah disamping tempat tidur istrinya, sehingga istrinya dapat bermakmum. Kegiatan berikutnya adalah mengurus putra putrinya sampai mulai memandikan, menyiapkan makan dan mengantarkan ke sekolah. Sehabis itu, sang suami kembali ke rumah untuk mengurus istri, dimandikannya istrinya, dikenakannya baju yang bersih, dan disuapi sarapan. Setelah segala urusan beres, diletakkan kembali istrinya di tempat tidur dengan posisi setengah berbaring, dihidupkannya TV di depan istrinya dengan memilih stasiun TV vaforit istrinya. Setelah beres semua, suaminya pamit pada istrinya untuk menjaga toko yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Saat adzan duhur tiba, suaminya menutup toko dan kembali pulang ke rumah,diulanginya lagi prosesi untuk berjamaah sholat dhuhur dengan membantu berwudhu dan mengenakannya mukena. Sambil menyuapi makan siang, suami tersebut bercerita segala kegiatan yang dilakukan sepanjang pagi sampai siang yang ditanggapi istri dengan gerakan mata dan bibir. Suami tersebut kemudian pamit lagi ke toko setelah meletakkan istrinya kembali pada posisi semula. 

Saat hari minggu, oleh suaminya dijadikannya hari libur kerja. Pada saat itu, istri dan anak-anaknya diajaknya berjalan-jalan ke tempat-tempat yang lebih jauh untuk berbelanja, mengunjungi tempat rekreasi, tempat olahraga, mengantarkan putranya beraktivitas.Kadang-kadang keluarga tersebut mendapat undangan untuk pertemuan keluarga besar dari pihak istrinya. Dengan setia, suami tersebut mengajak istrinya memenuhi undangan tersebut. Didorongnya kursi roda istrinya, dikelilingkannya pada saudara-saudaranya yang menyapanya dan mengajaknya berbicara singkat. Seringkali sekarang istri atau suaminya sekarang mendengar bisik-bisik yang mirip dengan bisik-bisik sebelum sang istri lumpuh. 
“Alangkah beruntungnya istri tersebut, mendapatkan suami yang setia dan mempunyai anak yang pintar-pintar” . Namun ada juga komentar yang agak keterlaluan yang kadang terdengar secara tidak sengaja oleh pasangan tersebut. “Kalau saya jadi suaminya, sudah saya tinggal kimpoi lagi, ngapain ngurus istri yang lumpuh seperti itu”. Suaminya akan berbesar hati, menenangkan istrinya yang menangis sesampai di rumah, karena kasihan dengan nasibnya. 

Demikianlah rutinitas harian dan mingguan tersebut dijalani selama bertahun-tahun sampai putra-putrinya dewasa. Oleh pasangan tersebut, diantarkannya putra-putrinya tersebut sampai mereka menikah dan meninggalkan rumah untuk membina keluarga sendiri. Sampai akhirnya setelah putra terakhir mereka yang lahir melalui operasi caesar menikah dan berkeluarga sendiri, maka tinggallah sekarang hanya mereka berdua dirumah tersebut. Bertahun-tahun suami tersebut dengan sabar dan telaten merawat istrinya yang lumpuh. 

Sampai suatu saat datanglah semua putra-putrinya kembali kerumah untuk merayakan lebaran bersama dan pada saat itu dengan berhati-hati putra tertuanya meminta waktu pada orangtuanya untuk pertemuan keluarga lengkap. Setelah semua berkumpul di ruang keluarga dengan sang istri duduk dikursi roda disamping suaminya yang rambutnya sudah banyak memutih, maka dengan sangat hati-hati dan bijaksana putra tertua menjelaskan alasan pertemuan tersebut. 

Bapak dan ibu kami yang sangat kami cintai, perkenankanlah saya selaku putra tertua mewakili adik-adik dapat menjelaskan pertemuan ini. Selama bertahun-tahun bapak dan ibu telah membesarkan kami dengan kasih sayang, terutama bapak yang tiada lelah telah mengantarkan kami menjadi putra-putri bapak ibu yang mandiri. Ucapan terima kasih yang tiada terhingga dan rasa syukur yang tiada habis-habisnya kami sampaikan kepada bapak ibu. 

Perkenankanlah bapak, karena bapak sudah bertahun-tahun merawat ibu, kami minta bapak dapat beristirahat dan menikmati kehidupan yang lebih baik. Biarlah saya dan adik-adik akan bergantian merawat ibu untuk selanjutnya. Kami juga sudah berunding bersama, dan atas perkenan ibu, kami ijinkan bapak apabila berkenan untuk menikah lagi supaya bapak ada yang merawat pada hari tua bapak. Mohon maaf bapak, apabila perkataan kami menyinggung perasan bapak. 

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan, setelah bertahun-tahun tidak pernah mengungkapkan isi hati, maka menangislah suami tersebut. Lama setelah semua menunggu dalam keharuan dan kebingungan, suami tersebut mulai berkata-kata dengan perlahan-lahan dan terbata-bata, 

Terima kasih anak-anakku, atas perhatian kalian terhadap bapak. Perlu kalian ketahui bahwa dulu, bapak mendapatkan ibumu dengan susah payah. Bapak berjuang lama meyakinkan keluarga ibu untuk diperbolehkan bersama ibu.Sejak saat itu, dalam hati bapak berjanji untuk selalu disamping ibu dalam keadaan apapun, dalam keadaan sehat dan sakit. 

Ibumu memberikan empat anak yang membahagiakan kehidupan bapak. Bapak mempunyai kebanggaan karena telah mengantarkan keturunan bapak menjadi manusia yang berguna. Apakah setelah itu, ibumu yang telah membuat bapak bangga karena melahirkan kalian, harus ditinggal hanya untuk menikahi wanita lain yang belum tentu dapat bapak banggakan untuk melahirkan putra-putri seperti kalian 

Selama bertahun-tahun saat ibu masih sehat, ibu telah mendampingi dan merawat bapak dengan penuh kasih sayang. Apakah setelah ibu sakit dan lumpuh, sebagai balasannya Bapak tidak mendampingi dan merawat ibu. Dalam kondisi sehat saja bapak ingin mendampingi dan merawat ibu, apalagi dalam kondisi sakit, bapak malah lebih ingin mendampingi dan merawat ibu. 

Tidak anakkku, pada saat Ibu koma dirumah sakit setelah kecelakaan itu, bapak memohon kepada Allah dengan doa “ya Allah Engkau maha penyembuh, sembuhkanlah istriku 
karena aku masih ingin menikmati keberduaan dan kebersamaan kami”. Allah mengabulkan permohonan bapak. Sampai sekarang dan sampai bapak meninggal, bapak masih ingin menikmati keberduaan dan kebersamaan kami. 

Bapak berdoa, “ya Allah Engkau maha pengasih, kasihanilah istriku, sadarkanlah dia, sehingga istriku dapat menjadi seorang istri dan ibu yang baik lagi”. Alhamdulillah Allah mengabulkan permohonan Bapak. Istriku telah sadar dari koma, dan dalam keterbatasannya, ibu telah menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Bapak yakin, sampai bapak meninggal, istriku akan tetap menjadi istri yang baik bagi bapak. Oleh sebab itu,mengapa bapak harus mencari istri baru lagi, yang belum tentu sebaik istri bapak sekarang. 

Bapak memohon kepada Allah, “ya Allah, Engkau maha mengetahui betapa cintaku dan cintaMU pada istriku sedemikian besar, demi cintaMu ya Allah ijinkan aku mencintainya lebih lama, sebelum Engkau memanggilnya. Demi cintaku pula ya Allah, akan kurawat dia, akan kusayangi dia, dan akan kudampingi istriku. Allah mengabulkan permohonan Bapak. Bapak berkesempatan mencintai Ibu lebih lama dan sampai sekarang bapak masih mencintai ibu Apakah bapak dapat mencintai perempuan lain, setelah hati bapak penuh dengan rasa cinta pada ibu kalian. Apakah setelah itu Bapak kemudian mengingkari janji bapak pada Allah. Tidak anakku. Rasa cinta bapak, Bapak ungkapkan dalam bentuk merawat ibu, menyayangi ibu dan mendampingi ibu sampai sekarang. 

Ijinkanlah, anak-anakku, demi kebahagiaan bapak dan ibu dimasa tua ini, akan kurawat ibu kalian, akan kusayangi ibu kalian, akan kudampingi ibu kalian, sampai bapak meninggal dunia atau ibu meninggal lebih dahulu. Itulah perasaan cinta Bapak pada Ibu. 

Perkataan terakhir itu diucapkan suami tersebut dengan penuh perasaan sambil menoleh pada istrinya.Mendengar perkataan suaminya tersebut, istrinya banjir air mata. Istrinya memandang suaminya dengan penuh rasa cinta dan ungkapan terimakasih. Melihat istrinya menangis, suaminyapun memeluk istrinya dan ikut menangis.Melihat kedua orangtuanya menangis, semua putra-putrinyapun ikut menangis dan larut dalam keadaan haru

Related Post:

0 comments:

Poskan Komentar